Tuesday, 14 August 2007

Ideal ensemble for a cocktail night out




















Diane von Furstenberg: Luna mini dress
Marc by Marc Jacobs: structured tiered dress
Oscar de la Renta: crochet mini dress
Christian Louboutin: exclusive Emily shoe
Isaac Mizrahi: clutch for Target
Channel Chance eau de parfume
Channel rouge

Monday, 6 August 2007

Tempoe Doeloe (the Old Time)

When I saw the picture from an expat's newsletter in Jakarta, I was deeply impressed and felt compelled to share it. So here it is: Soekarno (the first president of Indonesia) with Marliyn Monroe (a sensual icon even to present day) when he was visiting U.S.A. The story goes that he, a reknowned ladies man (he practised polygamy with 9 wives), requested a special meeting with Miss Monroe. Upon meeting her, he was deep in admiration and complimented her as a very popular accomplished actress.

An end of a series

After a few weeks of abandonment I finally decided to write my opinion about the much anticipated book of the year: Harry Potter and the Deathly Hallow. The media campaign was so strong that perhaps the only way to escape Potter mania is by burying yourself in the middle of Baghdad (and that is not 100% full-proofs). I was not particularly excited or curious about result of the final battle between You-Know-Who and the boy who lives. It was the sense of nostalgia that prompted me to finish the series. Harry Potter was one the first English book that piqued my interests to learn English. I am one of the generations that grew up following Harry Potter’s adventures. Rowling has done a good work of making us feel emotionally related to Harry and his friends (I can’t say much about her writing skills although she is definitely a better writer then me). In the end after years of waiting and guessing, I closed the book, finishing it in 8 hours of marathon reading (watery eyes, stiff neck, and all) to conclude that yes, he is growing up like every other average children, leaving the simple world to the disillusionment that everything is not what is seen. No spoiler here people. Enjoy the book. PS: Sincere thank you to Da Fonz for his understanding when I completely ignored him to finish my reading. And for his persuasions so I didn’t throw a tantrum when I didn’t receive my book delivery in time.

Kim et Moi: Asian chicks with attitude

What desperate people do when they are desperately bored.

Friday, 3 August 2007

Blue blue sky

I was walking to my office today in Amsterdam when I saw a very adorable train of clouds. The clear blue sky definitely enhanced the effect. At last after several weeks of miserable rainy and cold summer, the sun decided to peek over her hiding place. I hope that she stays for awhile.

Friday, 27 July 2007

Kiri-kanan kena

Kali ini blog-nya pake bahasa Indonesia deh heuhu karena bikinnya pas di kantor, nggak lucu kalau dibaca salah satu orang kantor terus dibawa bermasalah kaya yang di berita-berita soal orang dipecat karena dianggap merusak nama baik perusahaan tempat bekerja dan sebagainya. Bingung memang untuk membuat keputusan kalau blog itu termasuk domain public atau kegiatan pribadi yang dilakukan diluar tempat / jam kerja. Tapi ini nggak bisa dihitung kali yah karena gw masih terhitung trainee hehe dan lagi gw sangat bergantung dengan ide kalau di kantor nggak ada yang bisa bahasa Indonesia atau nggak ada yang segitu cintanya sama gw buat meriksa-meriksa ini. Walau gw benernya uda janji buat ngelakuinnya di dalam bahasa inggris, hitung-hitung buat latihan huehue maklum gw hobi nyerocos tapi kalau sudah soal tulis-menulis jadinya mati kutu. Untungnya juga gw sempat magang dan salah satu tugasnya bikin gw wajib memproduksi minimal 2 artikel per minggu. Uih berat juga rasanya waktu itu, apalagi pas gw uda mulai kehabisan ide. Belanda nggak segitunya ada yang buat ditulis-tulis, apalagi kalau terbatas sama budget financial. Gw nggak bakal nolak loh kalau dibayarin kantor buat ngeliput acara-acara ok, sayangnya yang itu juga terbatas kemampuan kapitalnya.

Duh gw muter ke topik lain deh, “Bad habit,” kata Mr. Nijman, salah satu guru favorit gw dari jaman kuliah. Sadar kok, tapi ini kan blog pribadi jadinya boleh dunk ngalur ngidul nggak jelas. Yah seperti yang bisa diperkirakan, gw sedang menganggur berat di kantor. Entah mengapa mungkin karena sudah hari Jumat, udah makin deket ke weekend dan semuanya nggak sabar buat pulang. Padahal asli kemaren punggung udah mau putus, leher pegel-pegel, mata udah kering kerontang, dan migraine berat-beratan. Yah nasib lah, konon memang begini situasi karir periklanan. Uhum jadinya nih gw mau cerita soal derita gw mencari pekerjaan di negeri orang. Policy di Negara ini memang ketat banget kalau elo nggak punya passport Uni Eropa atao temen-temennya kaya Jepang, Australia, Amerika Serikat, dsb. Penuh dengan sakit hati deh karena jujur aja gw sangat merasa kemampuan gw nggak kurang! Bisa banget bersaing sama orang-orang Eropa lainnya, bahkan gw bisa dengan pedenya bilang kalau mereka suka gaptek dan lebih malas dibandingin misalnya yang dari Asia. Anyway, setelah penuh perjuangan cari kerja dan nggak diterima karena passport rajawali gw yang bikin repot buat urus ijin kerja, gw sudah sempet putus asa. Uang semakin menipis padahal sudah kerja sana-sini, hemat sana-sini, belum lagi ada perasaan kalau gw cuma buang uang dan waktu karena masalahnya bukan di gw tapi gw nggak bisa lawan kebijakan negara kan? Padahal gw sudah bela-belain nunda kelulusan dan nyari sana-sini. Frustasi banget deh.

Para perusahaan yang berminat nih (dan percaya deh banyak banget yang berminat), untuk mempekerjakan orang-orang dengan kewarganegaraan dunia ke 3 (ini aja udah insulting banget) harus membuktikan kalau posisi yang mereka tawarkan sudah diiklankan minimal 6 minggu dan mereka sudah mencoba mencari calon-calon pertama dari Belanda, lalu anggota Uni Eropa, lalu EEA, dan G8 (Amerika Serikat, Jepang, dll) . Nah kalau sudah nggak bisa nih baru boleh ngambil yang dari negara lain. Pilihan lain adalah digaji minimal 35.000 euro setahun, yah ampun itu mah buat middle management, lah yang fresh starter kaya gw gimana nasibnya. Padahal sejak dahulu kala gw selalu berambisi buat hidup mandiri, bisa bebas bikin keputusan tanpa diributin tetek bengek karena hobi ikut campur orang-orang di Indonesia. Bukannya gw sok angkuh kalau kehidupan di luar negeri bakal lebih ok, nggak banget karena dengan gaji dan pajak, gw bakal berakhir di studio room yang kecil pas-pasan, belanja pun seadanya nggak ada istilah nuntut the ‘it’ bag, nggak ada yang bantuin bersih-bersih atau ngerawat pas sakit (untungnya ada si pacar). Kalau gw mau gampang gw selalu ada bonyok yang memang pengen anaknya pulang, di rumah mau makan apa ada, cuci baju? Ada pembantu. Mau jalan? Ada supir. Nggak cukup duit? Ada bokap. Cuma gw nggak pengen kaya gitu karena dengan begitu gw bakal selalu terikat dibawah lindungan sayapnya bonyok dan mau nggak mau dengerin mereka (mending cuma bonyok lah kalau keluarga besar atau tetangga yang nggak jelas juga ikut rewel, iii nggak kuat deh).

Kebayang nggak betapa bahagianya gw ketika gw denger gaji minimalnya diturunin ke 25.000 euro setaun! Itu kan gaji standard buat orang yang kerja full-time, bahkan kebetulan ada posisi kosong yang bisa gw isi di kantor ini. Boss sudah setuju eh datang lagi masalah lain. Ternyata walau sudah diumumkan dari bukan Juli yang lalu, mereka belum bisa menerapkan kebijakan tersebut dan typical-nya Belanda, mereka nggak tahu kapan pastinya bakal berlaku. Gimana lagi ini, gw bener-bener down karena ijin tinggal gw cuma sampai akhir Agustus sedangkan kalau gw ngambil yang khusus buat lulusan lalu cari kerja cuma bisa sampai Oktober pertengahan. Gimana kalau sebulan gw tinggalin ternyata mereka berlaku? Kan sakit hati banget. Gw sadar kalau nangis dan throwing tantrum tuh nggak berguna cuma kalau frustasinya udah kaya gitu gw pengen kabur aja kaya anak kecil, cari gampang aja, apalagi gw sudah 2 tahun tidak pulang dan sungguh amat sanggat home sick. Setelah selama beberapa hari bete (sorry pacar) gw mutusin untuk tarohan aja. Seperti yang Kim (temen kerja) bilang, kalau elo mau sesuatu, fight for it! Dy bahkan suggests gw buat kawin aja sama pacar supaya bisa disini (duh nggak deh gw masih cupu banget). Setidaknya kalau kesempatan ini gagal gw bisa bilang I’ve fought tooth and nail for it! Kalau memang nggak bisa yah pastinya gw bisa pilih jalan lain.

Quote of the moment

"I refuse to believe that everybody refuses to believe the truth."

Lisa Simpson, prodigious daughter of Homer J. and Marge Bouvier Simpson of the Springfield.